Harapan Bunda
HOME PROFIL LAYANAN DAN FASILITAS KARIR KONTAK

KISAH BAYI PREMATUR ZULFIKRI-DRAMA MENYAKITKAN

KISAH BAYI PREMATUR ZULFIKRIKISAH BAYI PREMATUR ZULFIKRI
DRAMA MENYAKITKAN

07 Agustus 2005

Dari balik kaca ruang Perinatologi Infeksi Rumah Sakit (RS) Harapan Bunda, Jakarta Timur, pekan silam terlihat bayi yang usianya belum genap sebulan, tengah dikerumuni keluarganya. Selang infus dan oksigen masih terpasang di tubuh Zulfikri, nama bayi itu. Beberapa perban juga terlihat di bagian wajah bayi itu. “Kalau enggak cepat ditolong rumah sakit ini, saya enggak bisa membayangkan bagaimana nasib bayi saya itu,” ujar Husein (23), ayah Zukfikri.

Dengan tulus, Husein dan istrinya, Lailasari (20) berterima kasih kepada pihak rumah sakit yang bersedia menolong bayinya. Sebelumnya, kata Husein, sejumlah rumah sakit menolak merawat anaknya. Husein mengisahkan, Kamis (21/7), “Saya lihat sekujur tubuh Zulfikri berwarna kuning dan napasnya tersengal-sengal. Saya enggak tahu apa sakitnya. Namun, kakak ipar saya bilang, Zulfikri sakit kuning dan harus dibawa ke rumah sakit.”

Husein dan Laila segera membawa bayinya yang saat itu berusia tujuh hari, ke Puskesmas Pinang Rant di dekat rumahnya. “Kata petugas Puskesmas, kuningnya sudah tingga. Mereka menyarankan kami, membawa bayi ke RS Budi Asih. Kami diberi surat pengantar, tapi enggak dikasih bantuan ambulans,” kata Laila, warga kelurahan Makasar, Jakarta Timur.

Laila yang saat itu ditemani suami, kakak ipar, dan mertuanya segera memberhentikan taksi. Sepanjang perjalanan ke RS Budi Asih, Laila hanya bisa memandangi anak dalam gendongannya dengan perasaan terenyuh. Bayi mungil itu hanya terdiam dan tak bergerak sama sekali. “Di taksi kami hanya bisa berdoa dan istigfar berkali-kali,” tutur Laila yang melahirkan Zulfikri prematur, saat usia kehamilan tujuh bulan dengan bantuan dukun beranak.

MASALAH BERAT BADAN

Sampai di RS, alangkah kecewanya Laila karena pihak RS menolak merawat anaknya, bahkan sebelum Zulfikri diperiksa. “Alasan yang kami dengar dari kakak saya, Zulfikri punya masalah dengan berat badan, yaitu hanya 1,4 kg. Pihak rumah sakit tidak bersedia merawatnya. Ya Allah, apa saya tak salah dengar. Apa maksud rumah sakt itu. Apa mereka tega menelantarkan bayi kami yang tidak berdosa ini,” kata Laila berulang-ulang.

Husein dan LailaSambil memendam kecewa dan kepedihan, Laila dan kerabatnya kembali naik taksi menuju RSCM, yang dirujuk RS Budi Asih. Dalam taksi, rombongan ini kembali tak henti-hentinya terus berdoa bersama.

“Sampai di RSCM kami dicegat petugas. Dengan hanya melihat tanpa memeriksa Zulfikri, dokter itu mengatakan alat rumah sakit kurang dan ruangan sudah penuh,” lanjut Laila.

Kali ini, Husein yang sudah pasrah dengan keadaan bayinya jadi emosi. Dengan wajah memerah, Husein bertanya-tanya, kenapa RS tega memperlakukan bayinya yang tak berdosa. “RSCM kan rumah sakit pemerintah. Kok tega berbuat seperti itu terhadap pasien. Rasanya enggak masuk akal rumah sakit sebesar RSCM enggak memiliki alat memadai,” papar Husein menimpali.

Saking kesalnya, Husein sempat melabrak dokter yang saat itu jaga. “Saya bilang kalau pun rumah sakit tak ada alat memadai, kenapa bayi tak ditolong lebih dulu,” kata Husein dengan suara berapi-api. Husein pun segera ditenangkan keluarganya. “Ibu enggak mau saya membuat suasana semakin keruh. Beliau takut dengan kondisi bayi kami.”

Rombongan ini kian pasrah setelah tiga lembaga kesehatan menolak merawat bayinya. “Saya hanya bisa menangis. Saya tahu, saya orang miskin dan orang kecil. Tapi begitukah cara rumah sakit yang memperlakukan Zulfikri. Apa salah saya dan bayi saya,” kata kuli bangunan ini dengan mata basah.

Secara lisan, rombongan ini dirujuk ke RSPAD. Kembali mereka nai taksi. Perasaan mereka semakin gelisah. Apalagi, kondisi Zulfikri semakin lemah. “Apalagi, saat istri saya memberi ASI, Zulfikri muntah. Melihat keadaannya, saya hanya bisa menangis. Untuk menguatkan perasaan, saya terus berdoa dalam hati.’ kata Husein yang saat itu benar-benar bingung.

Husein dan Laila bergantian menggendong anak pertamanya itu. Husein dan Laila agak berlega hati karena Zulfikri tidak rewel. Ia seolah tahu kebingungan orang tuanya. “Ia hanya diam,” cetus Laila.

DIANTAR SOPIR DOKTER

Apakah si mungil Zulfikri segera mendapat perawatan? Ternyata tidak. Jawaban pihak rumah sakit di siang yang panas itu, kembali menyesakkan dada Laila dan suanminya. “Mereka bilang ada kamar kosong, tapi saya berani enggak bayar uang muka Rp. 700 ribu per malam. Dug…rasanya hati ini. Bayangkan uang Rp. 250 ribu di tangan sudah habis untuk naik taksi berulang-ulang. Mana kami punya uang sebanyak itu?” keluh Laila.

Dengan mengiba-iba, Laila dan suami memohon pihak RS agar menolong bayinya terlebih dulu, Urusan biaya, mereka berjanji akan mengusahakan. “Petugas bilang akan mengecek ruangan. Tak lama kemudian, dia bilang peralatan RS tak lengkap dan kamar sudah penuh. Ah, rasanya lengkap sudah penderitaan kami. Mengapa tak satu pun tergugah melihat kondisi bayi kami,” jelas Laila dengan mata basah.

Kemana kaki melangkah, seolah Laila tak tahu lagi. Ia tak bisa membayangkan, RS mana yang bersedia menolong permata hatinya, Dengan tertatih-tatih, rombongan kecil ini meninggalkan RSPAD. Saat itulah mereka berpapasan dengan seorang pria perwira TNI AL. “Bapak itu bertanya, kami akan kemana. Kami pun menceritakan persoalan kami.”

Pria itu menyarankan agar Zulfikri dibawa ke RS Mintoharjo. Perwira itu meyakinkan rombongan Laila, pihak RS akan bersedia merawat Zul. Memang benar, “Meski uang kami pas-pasan, pihak RS bermurah hati mau merawat Zul,” tutur Laila dengan suara tersendat-sendat.

Di RS Mintoharjo, Zulfikri mendapat perawatan semestinya. “Alhamdulilah, bayi kami segera masuk ruang UGD. Sayangnya inkubator di RS hanya ada dua, namun sudah diisi bayi lain. Makanya kami dikasih surat rujukan ke RS Harapan Kita,” kata Laila dengan nada pasrah.

Yang membesarkan hati Laila, dr. Cici, salah seorang dokter di sana juga ikut membantu. Setelah tahu kesulitan Laila, dr. Cici minta sopirnya mengantarkan Laila ke RS Harapan Kita. Bahkan, dr. Cici memberikan sekadar uang saku.

Sampai di RS Haparan Kita, “Perawat RS bilang, bayi kami adalah pasien ICU. Tapi, ruang ICU sudah penuh. Kami dirujuk ke RS lain. Tasanya, dunia ini mau runtuh. Bayangkan, saya sudah membawa surat dari dokter Cici, namun tetap tak digubris,” kata Laila yang wajahnya langsung memucat.

LEWATI MASA KRITIS

Kebingungan sempar merebak. Sebagai ibu, rasanya Laila tak tega melihat bayinya berkeliling dari satu RS ke RS lain. “Syukurlah, meski bayi saya lemas, dia tak pernah rewel. Dia diam saja, mungkin air matanya sudah kering dan tak bisa menangis. Dia tidur dengan tenang dalam gendongan saya,”jelas Laila.

Di tengah kegundahan, Laila merasa berlega hati karena sopir dr. Cici bersedia mengantarnya mencari RS. Pak sopir menyarakan Zulfikri ke RS UKI. Laila merasa lega karena sang bayi mendapat penanganan yang baik di sore yang sudah menjelang malam itu. “Bayi kami sempat diperiksa dan dibersihkan rongga mulutnya di ruangan UGD. Namun, bayi kami memerlukan oksigen, sedangkan semua alat sudah dipakai.”

Petugas memberikan empat pilihan RS rujukan, yakni RS Hermina, RS Thamrin, RS Pasar Rebo, dan RS Harapan Bunda. Mereka memilih RS Harapan Bunda dengan pertimbangan paling dekat dengan rumah. Pak sopir yang baik hati itu tetap menemani Laila. Ia mengantarnya ke RS Harapan Bunda. “Melihat kondisi Zulfikri yang lemah, petugas dengan cekatan merawatnya. Kami lega. Plong rasanya. Bayi kami dirawat dengan baik. Peralatan RS pun memadai. Zulfikri segera dimasukkan inkubator,” papar Laila.

Soal biaya, kata Laila, ia juga mendapat kemudahan. “syukurlah, kami mendapat kelonggaran. Setelah 11 jam keliling, akhirnya bayi kami sudah melewati masa kritis. saya sangat berterima kasih dengan para dokter dan petugas di rumah sakit ini.”

Yang lebih membesarkan hati Laila, dari hari ke hari, kondisi Zulfikri kian membaik. “Banyak sekali perubahannya. Melihatnya begitu, kami seperti lupa dengan penderitaannya.”Husein dan Nenek

Dibalik kegembiraan Husein danLaila dengan perkembangan bayinya, mereka juga menyimpan kekesalan terhadap rumah sakit yan sempat menolak bayinya. “Kok bisa ya RS menolak merawat Zulfikri. Bayi kami sepertinya di ping pong kesana kemari, Mudah-mudahan, masalah ini tidak menimpa pasien lain,” harap Husein.

Setelah berita tentang bayi Zulfikri terbit di koran-koran, banyak para penyumbang memberi bantuan ala kadarnya kepada Laila dan Husein. “Ya, kami akan pergunakan uang sumbangan itu sebaik-baiknya. Saya juga sudah belanja keperluan bayi saya. Sebab, waktu kehamilan saya berumur tujuh bulan lalu saya belum sempat belanja karena keburu melahirkan.”

Laila dan semua ibu pasti berharap, Zulfikri kelak akan tumbuh sehat.

dikutip dari:
Tabloid Nova, tanggal 07 Agustus 2005
Oleh Debbi Safinaz